- Advertisement -
Pro Legal News ID
Opini

Terpedaya Oleh Perselingkuhan Antara Komunisme Dan Kapitalisme

Oleh : Gugus Elmo Ra’is

Bangsa Indonesia saat ini terpapar oleh penyakit kambuhan yang datang setiap September (September mob), dalam bentuk sikap saling tuduh dan saling mencurigai. Bila sebelumnya penyakit laten itu berupa tuduhan terpapar komunisme, dalam beberapa tahun terakhir terutama Pasca Pilpres 2019 muncul tuduhan baru yakni terpapar kadrunisme (kadal gurun) yang terobsesi dengan khilafah. Framming itu terus diproduksi para pihak, sehingga masyarakat terfragmentasi menjadi dua kelompok yang saling berhadap-hadapan.

Fenomena yang konyol itu diakui atau tidak, kini terjadi dan menggerogoti pondasi kebangsaan yang telah dibangun oleh para founding father’s kita. Kenapa saya katakan sebagai fenomena yang konyol ?, karena di pihak lain saat ini komunisme dan kapitalisme justru tengah bercumbu dan menjalin perselingkuhan. Suatu kondisi yang pasti akan membuat Soekarno marah besar, karena dulu Soekarno mengajak tiga ideologi besar, Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme (NIM) bisa hidup guyub untuk melawan kapitalisme, imperilaisme, tetapi kini antara komunisme dan kapitalisme justru menjalin ‘hubungan terlarang’.

Hipotesa itu bisa diapungkan setelah muncul gerakan glasnost and perestroika yang diusung oleh Mikhael Gorbachev 1986 lalu, Uni Soviet sebagai patron utama  negara  bercorak komunis runtuh berkeping-keping. Negeri beruang merah itu secara perlahan kembali bermetomorfose sebagai Rusia sebelum revolusi Tsar, abad 19 sebagai negara kapitalis.

Pasca Uni Soviet runtuh, praktis pertikaian ideologi itu meredup. Negara penganut paham komunisme kini tinggalah tersisa China dan Kuba. Apalagi demokratisasi menyasar negara-negara Eropa Timur. Komunisme sebagai sebuah sistem hanyalah dipertahankan oleh Kuba, yang kini justru terkungkung oleh kemelaratan yang absolut. Semua aktivitas penduduk menjadi statis karena semua dikendalikan oleh negara.

Sebaliknya, China meski tetap mempertahankan Partai Komunis, justru sistem ekonominya kini liberal dan kapitalistik. Negeri panda itu tenyata menikmati perselingkuhan ideologinya, terbukti dengan pertumbuhan ekonomi China yang tumbuh secara spartan 6-7% pertahun, yang merupakan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia. Product Domestik Brutp (PDB) China tahun 2019 lalu tercatat sekitar US $ 13, 08 triliun, yang menjadikan PDB  China, menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Secara perlahan negeri Mao Zedong itu tumbuh sebagai raksasa ekonomi dunia bukan oleh sistem komunis tetapi justru buah  hubungan  terlarangnya dengan sistem kapitalis.

Dan seperti terkena karma dan hukum alam, buah perselingkuhan antara komunisme dan kapitalisme China itu telah menghasilkan ‘anak haram’ yang bernama neo imperialisme. Tentu dengan maksud untuk menggali sumber-sumber pendapatan baru. Imperialisme gaya baru ala China itu dalam bentuk program yang beri nama Belt And Road Iniative, dalam bentuk pemberian utang buat pembangunan infrastruktur buat negara-negara ketiga terutama di kawasan Afrika, disertai syarat penggunaan tenaga dari China. Dengan strategi ini China tak perlu menggunakan kekuatan militer untuk menginvasi negara-negara miskin itu untuk menjadi koloninya. Imperialisme gaya China ini yang kini tak pernah disadari jika kekuatan komunis itu telah menjelma menjadi neo imperialisme.

Tidak tanggung-tanggung imperalisme China ini juga telah membuat Paman Sam bertekuk lutut, meski telah dikenal sebagai benchmark  (symbol) kapitalisme. Buktinya pasca terjadinya krisis kredit perumahan (subprime mortgage)  serta bangkrutnya lembaga sekuritas Lehman Brothers, 2008 lalu telah menjerumuskan  dan memerosokan Amerika sebagai salah satu negara super power menjadi super  losser (pecundang).

Faktanya Amerika yang terlanjur dijuluki sebagai lambang suksesnya (benchmark) kapitalisme  yang berada digaris depan dalam melawan komunisme, termasuk dugaan memperalat Jakarta untuk melawan Peking (1965), justru kini dengan berat hati harus membina hubungan terlarang dengan China yang masih menjadi benchmarknya komunisme  tetapi bercita rasa kapitalis. Bahkan pasca terjadinya krisis bubble gum, Amerika Serikat yang nota bene menjadi rival dagang utama China juga ikut ‘ngebon’ untuk menambal krisis. Tidak tanggung-tanggung utang AS ke pemerintah dan swasta China dalam bentuk US treasury  hingga tahun 2019 lalu  mencapai US$ 1,12 triliun atau sekitar Rp 16.231 triliun. Sebuah angka yang menunjukan secara ekonomi saat ini raja kapitalis itu  telah menjelma menjadi salah satu koloni China.

Deskripsi diatas hanya menjadi sebuah narasi jika kita memperdebatkan ideologi itu tak ubahnya seperti membahas pepesan kosong. Bukan berarti kita apatis dan mengabaikan bahaya komunisme, yang salah satu triloginya materialisme dealektik yang melahirkan permis Tuhan itu ada karena dianggap ada, sehingga bisa diiterprestasi sebagai faham atheis. Tetapi bila kita ingin melawan komunisme cukuplah kita menjalankan agama secara konsisten dan konsekuen. Sehingga tidak ada ruang bagi komunisme untuk bangkit kembali.

Seperti kita ketahui bahwa agama terutama Islam merupakan jalan tengah antara kapitalis dan komunis. Seperti dalam sebuah hadist yang dirawi oleh Ibnu Umar yang menyatakan, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi”. Frase yang bertama dari hadist itu menunjukkan jika Islam telah mengajarkan seseorang untuk bersikap patriotik kapitalistik dalam mencari rejeki, tetapi juga tidak melupakan fungsi sosialisme yang utopis  yang harus dilakukan oleh setiap individu melalui kewajiban membayar zakat, serta disunnahkan untuk melaksanakan infaq dan shodaqoh, sebagai upaya untuk bekerja mencari akhirat.

Jadi Islam tidak mengajarkan perlawanan atau revolusi kelas, tetapi  menuntun setiap individu mengalami kesadaran kelas. Dan individu  yang beruntung adalah individu yang bertaqwa dengan ukurannya selain menjalankan semua kewajibannya juga harus menjalankan kesadaran kelas. Jadi kesimpulannya komunisme tetap kalah kelas dengan agama. Jadi melaslah orang-orang yang terus menyebut komunisme tetapi tidak pernah berusaha menyadarkan kelas. ***

prolegalnews admin

Tinggalkan Balasan