- Advertisement -
Pro Legal News ID
Nasional

Rakyat Maluku Ingin Mengejar Ketertinggalan Bersama BMW

Politisi Partai Demokrat, Michael Wattimena (rep)

Ambon, Pro Legal – Rekam jejak (track reccord) sebagai Anggota Komisi V dan Wakil Ketua Komisi IV dengan ditunjang oleh latar belakang pendidikan yang beragam serta pengalaman organisasi yang panjang, telah membuat wawasan Nyong Ambon ini menjadi sangat kognitif dan holistik, tentang kebutuhan warga Maluku di masa yang akan datang. Meski memiliki sumber daya alam yang melimpah, ‘Kepulauan Rempah itu’ masih perlu peningkatan infrastruktur di sejumlah sektor.

Maka untuk mengejar ketertinggalan itu rakyat  Maluku perlu didampingi oleh BMW. Nama BMW itu bukanlah nama otomotif produksi dari pabrikan Jerman yang sangat terkenal itu, tetapi adalah akronim dari nama akrab Bang Michael Wattiwena (BMW) yang tak lain adalah politisi Partai Demokrat yang  sempat mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur Maluku dalam Pemilu 2018 lalu.

Michael Wattimena yang lahir 12 Januari 1969 ini  adalah politisi yang berasal dari Maluku. Dia terpilih menjadi Anggota DPR RI periode 2014-2019 dari Partai Demokrat di daereah pemilihan Papua Barat. Saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Mantan Ketua  Umum DPP Gerakan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) masa bakti 2011 – 2014 ini tercatat sebagai salah satu inisitaor terbitnya UU Jasa Konstruksi (Jakon) maupun UU Kepulauan. Dengan ‘jam terbang’ yang tinggi itu BMW pasti tahu dan paham betul kebutuhan infrastruktur di Maluku yang layak mendapatkan proritas sehingga dapat menunjang mobilitas maupun kegiatan ekonomi di Maluku, agar bisa mengejar ketertinggalan dari daerah lain.

Selama ini provinsi yang dikenal memiliki budaya ‘Bambu Gila’ ini memiliki sumber daya alam yang melimpah sebutlah kekayaan laut melimpah ruah serta kekayaan tambang, tetapi belum bisa digarap secara maksimal. Maka berbekal wawasannya yang kognitif dan holistik, BMW mengaku selalu terobsesi bagaimana ilmu dan pengalamanan yang diperolehnya selama ini bisa diaplikasikan demi kemajuan kampung halamanya. BMW yakin selama masyarakat Maluku masih mau berpegang teguh dengan filosofi budaya ‘Bambu Gila’ yang esensinya adalah untuk memenangkan pertarungan atau kompetisi butuh persatuan dari semua elemen masyarakat apapun latar belakangnya sepertinya halnya sekelompok orang yang bersama-sama melawan ‘Bambu  Gila’. Apalagi masyarakat Maluku telah memiliki filosofi yang sangat terkenal, ‘kitorang basudara’.

Sebagai Nyong Ambon, yang lahir di Itakawa, Saparua, Maluku Tengah, Kepulauan Maluku, ini ingin menghimpun semua kekuatan masyarakat Maluku  untuk mengejar ketertinggalan dari daerah lain. Seperti diketahu BMW memperoleh gelar kesarjanaan dari Universitas Pattimura, Ambon. Pemegang gelar Sarjana Ekonomi dan Magister Manajemen ini juga tercatat sebagai anggota aktif Komisi V DPR RI yang membidangi masalah Perhubungan, Telekomunikasi, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, Pembangunan Pedesaan dan Kawasan Tertinggal.(Tim)

prolegalnews admin

Tinggalkan Balasan