- Advertisement -
Pro Legal News ID
Nasional

Posisi Ganda Antara Ilmuwan dan Politisi Cendikia

Ketua Asosiasi Ilmuan Praktisi Hukum Indonesia (Alpha), Dr Azmi Syahputra SH,MH.

Jakarta, Prolegalnews – Ilmuwan sejati tidak akan  berpihak berdasarkan posisinya, melainkan pada kebenaran karena kedudukan ilmuwan harus objektif dan berpikir secara tidak parsial. Selain itu, ilmuwan harus terbuka pada obervasi baru yang bisa jadi berbeda dengan ekspektasinya.

Bersikap Objektif  menjadi terutama karenanya pemikiran harus berbasis pada data, fakta dan pengetahuan berpijak pada kebenaran, dengan cara ini, kepentingan pribadi akan dapat ditekan. Premis itu dikemukakan oleh Ketua Asosiasi Ilmuan Praktisi Hukum Indonesia (Alpha), Dr Azmi Syahputra SH,MH.

Sedangkan posisi politik praktis tidak memerlukan pemikiran yang konsekuen sebagaimana kebenaran keilmuwan, Yang diperlukan adalah kepentingan sesaat. Begitulah posisi kekuasaan  kadang  seorang yang memegang kekuasaan akan menggeser nilai kebenaran akademik.

Karenanya dari penjabaran diatas setidaknya diketahui ciri khas ilmu adalah obyektif, rasional, terbuka untuk diuji, bebas nilai, dan juga benar atau salah. Sedangkan politik lebih berada di wilayah idiologis bersifat subyektif, tertutup, irrasional, dan berorientasi bukan pada benar atau salah melainkan menang atau kalah.

Menurut Azmi, hadirnya Prof Mahfud MD  dari kalangan ilmuwan di ranah organ kekuasaan sebenarnya adalah moment untuk meluruskan birokrasi dan diharapkan mewarnai kinerja pemerintahan sesuai nilai dan prinsip keilmuan.

Sebagai seorang menteri yang berasal dari ilmuwan seharusnya memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan berpikir membuat formulasi  bagaimana perkembangan hukum dan penegakannya supaya menjadi lebih baik bukan sebaliknya, sikap karakteristik keilmuwan  tidak boleh hilang begitu dalam kekuasaan, tidak boleh  berubah apalagi sampai menimbulkan kecemasan dalam masyarakat.

”Karenanya sebagai seorang ilmuwan atau cendikia yang juga menjabat amanah dalam organ kekuasaan sejatinya harus memiliki tanggung jawab dalam hal memelihara dan menjaga ilmu, agar ilmu tetap ada dalam jalan kebaikan dan kebenaran,” ujar Azmi.

Karena norma masyarakat ilmiahlah yang memberikan nilai dasar dan makna kepada setiap ilmuwan karena akal yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa harus digunakan untuk memberikan manfaat kepada sebanyak mungkin orang bukan pula pada kekuasaan atau kepentingan sesaat.Tim

prolegalnews admin

Tinggalkan Balasan