- Advertisement -
Pro Legal News ID
Opini

Parantos Waktosna Urang Sunda Pimpin Ibu Kota

(rep)

Oleh : Gugus Elmo Rais

Suksesi kepemimpinan di DKI Jakarta tinggal menghitung hari, seiring akan berakhirnya masa jabatan Anies Baswedan pada tanggal 22 Oktober 2022. Dalam bursa kandidat, hingga saat ini belum ada nama calon yang moncer dan dominan. Calon petahana juga masih dipertanyakan apakah akan maju lagi atau justru bertarung dalam  palagan yang lebih besar yakni Pilpres 2024. Sehingga  publik masih belum memiliki gambaran siapa yang akan diajukan oleh partai-partai besar di DPRD DKI Jakarta.

Nama-nama seperti Gibran, Tri Rismaharini  yang kemungkinan akan diusung oleh PDIP, Riza Patria yang akan didorong oleh Gerindra serta Airin Rachmi Diani yang akan diajukan oleh Golkar, hingga saat ini hanya terkadang disebut-sebut. Konstelasi politik yang cenderung merata itulah yang akan memastikan jika event Pilgub DKI Jakarta yang akan datang bisa dipastikan seru. Karena dapat dipastikan  ‘miniatur’ koalisi Indonesia bersatu akan ambyar seiring dengan berakhirnya masa kepemimpinan Presiden Jokowi pada tahun 2024 yang akan datang. Sehingga anggota koalisi di Kebon Sirih  juga akan mencari jalannya ‘cinta’ masing-masing.

Dengan konstelasi politik  yang sangat cair karena tidak adanya leader dalam koalisi akan membuat peta pertarungan menjadi sangat terbuka. Mesin politik berupa partai tetap akan memainkan peran yang sangat penting namun juga bukan menjadi faktor penentu satu-satunya. Karena dukungan politik di DKI tidak bisa dimobilisasi. Apalagi masyarakat DKI Jakarta adalah pemilih yang sangat rasional. Maka salah satu faktor yang sangat penting dan determinan adalah personality (karakter)  serta  track reccord  (rekam jejak) sang calon yang sudah bisa  dinilai oleh masyarakat.

Kualifikasi personal seperti itulah yang menuntut setiap partai akan ‘kerja keras’ untuk mencari dan menyeleksi sosok yang bisa ‘dijual’ sekaligus  memenangkan pertarungan dan menjadi ‘petugas partai’. Petugas yang akan mengimplementasikan gagasan dan platform partai dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu kualifikasi personal  yang dibutuhkan masyarakat DKI Jakarta adalah sosok yang  visioner dan tegas terutama dalam menyikapi pluralitas masyarakat DKI Jakarta yang notebene adalah masyarakat urban dari berbagai suku yang ada di Indonesia.

Salah satu nama yang layak untuk diapungkan adalah sosok mantan Menteri Kementerian  Kelautan Dan Perikanan (KKP), Susi Pujiastuti. Sosok ini dikenal memilki karakter yang kekeuh serta tegas. Dari titahnyalah  semua bentuk illegal fishing dapat dienyahkan. Bahkan track reccordnya sudah teruji dan diakui oleh dunia. Sebagai orang yang memiliki latar belakang sebagai pengusaha perikanan dan penerbangan, jiwa entrepeneurship Susi sudah tidak diragukan lagi ditopang dengan network (jaringan)  yang memadai.

Bila Susi mau turun gunung, maka sosoknya akan merepresentasikan suku Sunda yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi episentrum politik. Kehadiran Susi akan menjadi urang Sunda selanjutnya yang memimpin DKI Jakarta setelah  pemimpin legendaris, Ali Sadikin (1972-1977). Kelemahan satu-satunya Susi Pujiastuti adalah bukan kader partai murni. Sehingga tidak memiliki kendaraan politik yang bisa diandalkan. Tetapi kelemahan itu bisa disiasati  melalui jalur independen atau bila ada partai di Kebon Sirih yang mau meminangnya.

Pemilik maskapai Susi Air, mungkin akan menjadi pemimpin DKI Jakarta yang bisa bersikap lugas seperti halnya ketika menjadi Menteri KKP. Sebuah tipologi kepemimpinan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Jakarta. Sikap tanpa ewuh pakewuh itulah yang sangat diperlukan oleh masyarakat Jakarta. Sehingga eksekusi kebijakan bisa berjalan dengan lancar.

Jika Susi mau maju ke medan pertempuran untuk memperebutkan kursi gubernur ‘bekas’ Ibu Kota Indonesia. Maka sosok urang Sunda  selanjutnya yang layak untuk maju ke kursi pimpinan Nusantara (Ibu Kota Republik Indonesia) selanjutnya adalah Ir. Ridwan Kamil. Apalagi setelah Presiden Jokowi mengungkapkan jika sosok yang akan terpilih menjadi Kepala Otorita Nusantara adalah sosok yang berlatar belakang arsitek sekaligus berpengalaman memimpin  daerah (Gubernur Jawa Barat). Maka kualifikasi personal semacam itu hanya ada dalam diri Kang Emil.

‘Soekarno ketjil’ ini memiliki kekuatan dalam konsep untuk membangun sebuah kota modern terbukti dari rekam jejaknya dalam mendesign beberapa bangunan iconik  di sejumlah kota di dunia. Tetapi yang tak kalah penting, berbekal pengalamannya selama menjadi wali kota dan gubernur, RK bisa mengeksekusi konsep itu dengan baik. Apalagi letak Ibu Kota Negara (IKN) dengan nama Nusantara, di Penajem  Paser  Utara itu adalah wilayah yang notabene memiliki jumlah penduduk relatif kecil.

Selain  memiliki  kekuatan di konsep, RK juga memiliki kelebihan lain yakni tingkat resistensi yang relatif kecil. Karena memang mantan Wali Kota Bandung ini memiliki personality yang baik  dan berpembawaan santun. Sehingga tidak akan muncul penolakan, apalagi bila Kang Emil bisa dipadukan dengan tokoh setempat. Keduanya bisa menjadi dwitunggal yang sangat efektif dalam membangun Ibu Kota Baru, Nusantara.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membawa sentimen primordialisme ditengah-tengah munculnya fenomena rasisme. Karena penulis sendiri berlatar belakang suku yang berbeda dengan Susi maupun  Kang Emil. Penulis justru berlatar belakang suku dan sekolah yang sama dengan salah satu kandidat lainnya. Tetapi semua semata mata dengan pertimbangan obyektif terkait, kapabilitas, integritas maupun elektabilitas calon itu sendiri.***

prolegalnews admin

Tinggalkan Balasan