- Advertisement -
Pro Legal News ID
Hukum

Majelis Hakim Nyatakan PT AIU Pailit

Persidangan perkara Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) PT Asa Inti Utama pada Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dilakukan Rabu (25/5), (ist)

Jakarta, Pro Legal News – Persidangan perkara Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) PT Asa Inti Utama pada Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dilakukan  Rabu  (25/5)  dengan agenda Rapat Majelis Hakim. Dalam persidangan   yang dipimpin oleh  Hakim Majelis Bambang Sucipto, S.H,M.H dengan Dariyanto S.H, M.H dan Heru Hanindyo S.H.,M.H, L.L.M sebagai hakim anggota serta  dihadiri oleh kreditur  bernama Yuliana dan Anna Fransika yang didampingi oleh kuasa hukumnya, Guntur Manumpak Pangaribuan  SH. Majelis hakim menyatakan jika PT AIU dinyatakan  pailit.

Seperti  diketahui PT Asa Inti Utama  telah digugat oleh kreditur Yuliana dan Anna Fransiska.  Jumlah kreditur yang merasa dirugikan oleh PT AIU sebanyak 18 kreditur  yang terdiri dari 17 kreditur perorangan dan 1 kreditur badan  hukum perseroan dengan total nilai tagihan sebesar Rp 69 M.

Majelis hakim menilai jika PT Asa Inti Utama (AIU) dinyatakan  terbukti tidak memiliki itikad baik  untuk menjalin komunikasi dengan para kreditur. Bahkan PT AIU  juga tidak mengijinkan  para kreditur untuk mengunjungi lokasi pabrik   milik PT AIU. Sehingga majelis hakim memutus menggunakan dasar pasal  255 Undang-Undang No 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Pasal 255 (1)  yang menyatakan : Penundaan kewajiban pembayaran utang dapat diakhiri atas permintaan Hakim Pengawas, satu atau lebih kreditur atau atas prakarsa pengadilan.

Putusan  majelis hakim itu merupakan  lanjutan dari proses voting yang dilakukan secara terbuka dan mayoritas kreditur sebanyak 17 kreditur  perorangan itu menyatakan menolak proposal perdamaian yang diajukan oleh pihak PT Asa Inti Utama (AIU), Jum’at (20/5). Pasalnya, dalam proposal itu ditawarkan pengembalian dengan tenor 5-10 tahun dengan grass period  1 tahun, sehingga mayoritas kreditur  menilai proposal itu sangat tidak logis serta tidak manusiawi. Proposal itu juga tidak memberikan jaminan pembayaran  karena tidak ada penjelasan dari  mana sumber uang itu akan diperoleh.

Maka ketika dilakukan voting para kreditur dengan serta merta menolak. Dengan penolakan para kreditur itu secara otomatis PT AIU terancam  dipailitkan, tinggal menunggu pengesahan dalam sidang  majelis hakim yang akan digelar pada hari Rabu (25/5). Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Pasal 255 (1).

Seperti diketahui, gugatan perkara PKPU itu diajukan oleh Yuliana dan Anna Fransiska. Keduanya berinvestasi di PT Asa Inti Utama melalui senlai Rp 2 milyar, dengan iming-iming bunga investasi yang cukup tinggi. Kenyataannya, bunga tidak dibayar dan investasinya amblas. Setelah berkali-kali menagih dan gagal, akhirnya keduanya dengan didampingi Advokat Dr. Ir. Albert Kuhon MS SH, Drs Hasan Basri SH.MH  dan Guntur Manumpak Pangaribuan SH mengajukan gugatan PKPU.(Tim)

prolegalnews admin

Tinggalkan Balasan