- Advertisement -
Pro Legal News ID
Opini

DKI Jakarta Menanti Sentuhan Tangan Risma

Ilustrasi (rep)

Oleh : Gugus Elmo Rais

Dalam diskusi mengenai kependudukan di Nusa Dua Bali,  Maret, 2013 lalu   para pakar menyepakati bahwa pembangunan berkesinambungan perlu memperhatikan dinamika penduduk dan dampaknya terhadap lingkungan hidup, kesehatan, dan pertumbuhan ekonomi. Untuk pembangunan yang berkesinambungan, yang berdasarkan kesetaraan dan hak asasi manusia, agenda pembangunan pasca-2015 perlu memperhatikan dinamika penduduk antara lain jumlah, struktur, komposisi dan distribusi spasial serta dampaknya terhadap lingkungan hidup, kesehatan, pertumbuhan ekonomi. UN Resident Coordinator di Indonesia Douglas Broderick saat itu menyatakan jika menjaga kesinambungan pembangunan, kelestarian lingkungan hidup dan kesejahteraan tujuh miliar penduduk dunia adalah tantangan.

Tetapi hingga saat ini belum ada kemimpinan lokal maupun nasional yang mampu merumuskan platform pembangunan seperti itu. Tanpa terkecuali kepemimpinan di level daerah seperti DKI Jakarta yang telah menjadi benchmark maupun barometer kepemimpinan nasional. Sejak didaulat menjadi Pj Gubernur DKI Jakarta Oktober 2022 lalu, Heru Budi Hartono juga belum terlihat memiliki kebijakan yang bersifat fundamental sebagai blue print pembangunan di DKI Jakarta. Meski itu bukan kesalahan  Heru Budi karena memang bersifat ad interim sambil menunggu Gubernur definitif hasil Pilkada DKI Jakarta pasca Pilpres 2024 nanti, sehingga tidak memungkinkan Heru untuk mengambil kebijakan yang startegis.

Posisi yang dilematis itulah yang memposisikan Heru seperti bayang-bayang dari Gubenur DKI Jakarta sebelumnya yakni Anies Baswedan yang telah  meninggalkan legacy  cukup baik dengan perolehan sejumlah penghargaan di tingkat nasional maupun internasional tentu saja dengan segala kontroversi yang menyelimutinya. Prestasi yang telah diraih Anies Baswedan yang notabene  bukan kader partai murni inilah yang membuat mantan Mendikbud mampu mendegradasi kemampuan partai dalam menciptakan calon-calon pemimpin nasional tanpa terkecuali bagi Partai PDIP sebagai partai pemenang  Pemilu (ruling party) dalam Pemilu 2024.  Sehingga PDIP saat ini dibuat kerepotan membendung langkah Anies sebagai effort dari keberhasilannya selama memimpin  DKI Jakarta. Keberadaan Heru yang semula diharapkan menjadi antitesis dari gaya kepemimpinan Anies ternyata belum mampu mendeligitimasi sosok Anies di mata masyarakat.

Maka untuk mengembalikan marwah PDIP di mata masyarakat sekaligus untuk mengkonsolidasikan kekuatan partai banteng moncong putih itu, PDIP harus mempersiapkan kader yang memiliki kualifikasi dan karakteristik yang kuat dalam menghadapi Pilkada DKI Jakarta pasca Pilpres 2024 nanti. Ada sejumlah kader PDIP yang menurut saya cukup mumpuni untuk menandingi kader-kader yang akan dipersiapkan oleh partai-partai lain yakni Menpan RB dan mantan Bupati Banyuwangi, Azwar Anas dan tentu saja yang Mensos Tri Rismaharini.

Personal charakter Risma sebagai seorang yang bertipikal pekerja keras akan menjadi antitesis dari gaya kepemimpinan Anies yang cenderung flamboyan. Gaya kempemimpinan Risma yang memiliki style  straight forward (lugas tanpa tendeng aling-aling) ini akan mengingatkan gaya kemimpinan Jokowi dengan program blusukan yang mampu membawanya ke Istana Negara sebagai Presiden RI yang ke 7. Sebagai daerah dengan karakteristik masyarakatnya yang urban multi kultur, maka gaya kepemimpinan Risma akan menjadi jawaban yang pas seperti halnya ketika DKI Jakarta dipimpin oleh Sutiyoso. Apalagi Risma dikenal  ‘cukup bersih’ terbukti kerap mendapat apresiasi dari KPK.

Capaian prestasi  Risma selama menjadi Mensos maupun  Wali Kota Surabaya juga cukup baik. Risma telah menyulap Kota Surabaya menjadi kota yang diperhitungkan dunia, dan sejajar dengan kota-kota besar di dunia. Sebanyak 322 penghargaan nasional dan internasional, menjadi bukti nyata keberhasilan Wali Kota Risma, dan menjadi bukti bahwa kepemimpinan Wali Kota Risma sudah diakui dunia.

Penghargaan internasional yang diperoleh Risma  diantaranya adalah penghargaan wali kota terbaik dunia pada bulan Februari 2015 dari Citymayors.com.  Di bulan yang sama, ia juga mendapatkan penghargaan World Mayor Commendation atau wali kota terbaik ketiga di dunia dari World Mayor Project. Kemudian di Bulan Maret 2015, Wali Kota Risma masuk 50 tokoh besar dunia di peringkat 24 dari media terkemuka Amerika Serikat, Fortune.

Selain itu, ia juga meraih penghargaan HIS Alumni Internasional Awards atau alumni internasional terbaik dari Institute for Housing and Urban Development Studies (IHS) pada 18 Oktober 2016. Mendapatkan penghargaan Govinsider Innovation Awards 2017 kategori Inspirational Leader dari UNDP dan Lembaga Innovation Labs World, Singapura, pada 27 September 2017. Kemudian penghargaan yang langka juga pernah diterima Wali Kota Risma, yaitu penghargaan UN Habitat Scroll of Honour dari UN Habitat di Nairobi-Kenya pada 1 Oktober 2018. Risma juga mendapatkan penghargaan the 100 Most Influential People in Climate Policy kategori politics and government dari Apolitical pada Maret 2019, dan Women Empowerement Award dari Her Times pada 22 Juni 2019

Risma juga sempat  menduduki beberapa posisi penting di level Internasional, yaitu Board Member of Global Covenant of Mayors for Climate and Energy (GCoM) sejak tahun2017, Honorary President of Belt and Road Local Cooperation Committee (BRLC) sejak tahun 2018, dan President of UCLG ASPAC sejak 2018-2020, dan Vice President of UCLG World sejak 2019-2020.(***)

 

prolegalnews admin

Tinggalkan Balasan