- Advertisement -
Pro Legal News ID
Hukum

Dirut PLN Mengaku Bertemu Setya Novanto Terkait Proyek PLTU

Jakarta, Pro Legal News – Sungguh mengejutkan dan semakin terbuka siapa yang bermain di balik kasus mega proyek PLTU Riau 1 yang kini ditangani KPK. Kata Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir Pernah bertemu mantan Ketua DPR Setya Novanto yang berminat atas proyek tersebut.

Pertemua nya berlangsung di kediaman Novanto pada tahun 2016. Sofyan Basir mengaku diajak Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni M Saragih untuk bertemu Novanto. “Ibu Eni melalui telepon. kasih tahu bahwa Pak Ketum (Novanto) mau ketemu dengan saya,” kata Sofyan Basir ketika menjadi saksi di sidang terdakwa Johanes B Kotjo di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta, Kamis (25/10)

Atas pengakuan Sofyan, jaksa KPK merasa heran apa kepentingan pertemuan tersebut. Dikatakan Sofyan saat itu Novanto mengetahui informasi adanya proyek program 35.000 MW yang dilakukan PLN.

Menurut Sofyan saat itu Setya Novanto baru dengar ada program 35 MW. Ketika bertemu Novanto, Sofyan Basir mengajak Direktur Pengadaan Strategis 2 PT PLN Supangkat Iwan.

Eni Saragih yang ikut dalam pertemuan tidak banyak bicara saat pertemuan. Namun pertemuan itu belum membahas proyek PLTU Riau-1. “Itu program baru mencoba melakukan inovasi bisnis PLN agar efisien. Pengusaha ikut tender tapi tidak ada nilai tambah bagi PLN,” imbuh Sofyan.

Ketika Jaksa bertanya apakah ada niat  Novanto saat itu mendapatkan proyek di PLN. Sofyan membenarkan dan  Novanto disebut Sofyan berminat mengerjakan proyek PLN di Pulau Jawa.

Kata Sofyan atas keinginan Novanto  bahwa proyek PLN di Jawa sudah dikerjakan oleh pemerintah. Sebab proyek di Jawa merupakan pembangkit listrik tenaga gas.

“Kebetulan Jawa 3 sudah dipegang PLN. Karena pembangkit listrik tenaga gas untuk malam hari. Sampaikan ke beliau mohon maaf, Jawa 3 sudah ada yang memiliki yaitu kami sendiri,” ucap Sofyan.

Saat pertemuan itu, Sofyan juga mengaku pernah mengusulkan proyek lain yang masuk RUPTL di luar pulau Jawa. Proyek PLN di luar Jawa belum banyak diminati oleh investor atau pengusaha.

“Saya sampaikan masih banyak proyek RUPTL lain. Waktu itu RUPTL di luar Jawa belum banyak diminati Pak, kami sampaikan luar Jawa belum banyak diminati,” ujarnya.

Dalam perkara ini, Kotjo didakwa menyuap Eni dan  Idrus sebesar Rp 4,7 miliar. Duit itu dimaksudkan agar perusahaan Kotjo, Blackgold Natural Resources Limited, ikut ambil bagian menggarap proyek PLTU Riau-1. tim

prolegalnews admin

Tinggalkan Balasan