- Advertisement -
Pro Legal News ID
Ibukota

AKP Danu : Masyarakat Jangan Asal Main Share Berita Hoax

Wakapolsek Senen Jakarta Pusat AKP Danu Mergantara, Didampingi Kanit Bimas Iptu Surono, saat memberikan keterangan kepada Tim Pro Legal

Jakarta, Pro Legal News – Penyebaran berita bohong atau sering disebut hoax kini tengah menjadi persoalan yang cukup serius di Indonesia. Pasalnya, hoax menjadi salah satu pemicu putusnya pertemanan, gesekan, dan permusuhan antar masyarakat.

Informasi yang bersifat hoax menyebar baik melalui saluran media sosial maupun grup di aplikasi chatting, misalnya WhatsApp, BlackBerry Messenger, dan masih banyak lagi.

Mengapa banyak orang yang mudah percaya dengan informasi-informasi hoax dan mengapa pula penyebarannya begitu massif meski kebenarannya belum dapat dipastikan?.

Menurut pandangan Wakapolsek Senen, Jakarta Pusat AKP Danu Megantara, ada dua faktor yang dapat menyebabkan seseorang cenderung mudah percaya pada hoax. “Orang lebih cenderung percaya hoax jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki,” kata AKP Danu didampingi Kanit Bimas Iptu Surono dalam wawancara khusus dengan Tim Prolegal, Rabu (15/5).

Salah satu contoh, seseorang memang sudah tidak setuju terhadap kelompok tertentu, produk, atau kebijakan tertentu. “Ketika ada informasi yang dapat mengafirmasi opini dan sikapnya tersebut, maka ia mudah percaya,” ujarnya.

Hal tersebut, juga berlaku pada kondisi sebaliknya. Seseorang yang terlalu suka terhadap kelompok, produk, dan kebijakan tertentu, jika menerima informasi yang sesuai dengan apa yang ia percayai, maka keinginan untuk melakukan pengecekan kebenaran terlebih dahulu menjadi berkurang.

Secara natural, perasaan positif akan timbul di dalam diri seseorang ketika ada yang mengafirmasi apa yang dipercayai. Perasaan terafirmasi tersebut juga menjadi pemicu seseorang dengan mudahnya meneruskan informasi hoax ke pihak lain.

Penyebaran hoax, selain karena adanya perasaan terafirmasi, juga dipengaruhi oleh anonimitas pesan hoax itu sendiri. “Sering kali ada awalan pesan ‘sekadar share  dari grup sebelah’. Anonimitas ini menimbulkan pemikiran bahwa jika informasinya salah, bukan tanggung jawab saya. Saya sekedar share,” ujar Danu.

Alasan kedua bagi seseorang mudah percaya pada hoax, bisa juga disebabkan terbatasnya pengetahuan. “Tidak adanya primier knowledgetentang informasi yang diterima bisa jadi memengaruhi seseorang untuk menjadi mudah percaya,” kata waka polsek itu.

AKP Danu mencontohkan, informasi yang ramai disebarkan melalui broadcast message berisi ajakan untuk mengunduh aplikasi tertentu atau donasi melalui perusahaan tertentu. Kepercayaan terhadap informasi-informasi tersebut bisa jadi dikarenakan tidak ada pengetahuan sebelumnya mengenai aplikasi atau perusahaan yang dimaksud.

Fakta menariknya, tidak ada satu pun orang yang benar-benar imun terhadap hoax. Siapa saja bisa menjadi korban sesatnya informasi hoax. “Ketika berbicara soal media sosial, media digital, saya berpendapat, kita harus bedakan antara kemampuan mengevaluasi informasi dengan kemampuan mengoperasikan gawai. Seseorang yang tech savy belum tentu information literate,” ujarnya.

Oleh karena itu, secara teoretis, menurut Danu, rentan atau tidaknya seseorang terhadap hoax lebih tergantung pada kemampuan berpikir kritis, mengevaluasi informasi, dan literasi media. Bukan hanya kemahiran memanfaatkan teknologi informasi.

Wakapolsek Danu menambahkan, secara umum hoax memiliki daya untuk mengubah dan memperkuat sikap atau persepsi yang dimiliki seseorang terhadap suatu hal. Bisa jadi ketidaksetujuan terhadap kebijakan tertentu, orang tertentu, kelompok tertentu, dan sebaliknya. Namun, khusus informasi-informasi hoax yang bersifat negatif dapat menyebabkan kecemasan berlebih. ” tambahnya. Rico/Emily

prolegalnews admin

Tinggalkan Balasan